biografi khalil gibran

August 2nd, 2007 by mr-cooll

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.

Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.

Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”. Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931. Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”

hai dengarlah

July 1st, 2007 by mr-cooll

Aku anak orang tak punya
Ingin kugapai cita-cita
Demi Nusa dan bangsa…
Tapi kau hancurkan diriku
Akan semua kerakusanmu…

Wahai para wakil rakyat
Lupakan semboyan bangsamu ?
Hentikan keangkuhanmu
Hilangkan hati iblismu
Dengarkah teriakan orang yang tak mampu
Yang ingin menuntut ilmu
Demi memajukan negaramu

suara anak negeri

July 1st, 2007 by mr-cooll

Aku anak orang tak punya
Ingin kugapai cita-cita
Demi Nusa dan bangsa…
Tapi kau hancurkan diriku
Akan semua kerakusanmu…

Wahai para wakil rakyat
Lupakan semboyan bangsamu ?
Hentikan keangkuhanmu
Hilangkan hati iblismu
Dengarkah teriakan orang yang tak mampu
Yang ingin menuntut ilmu
Demi memajukan negaramu

semar dan politik indonesia

October 11th, 2006 by mr-cooll

Semar Super, Supersemar: Serbasamar!

LEBIH dari sekadar kebetulan jika Semar dan Supersemar tetap terselubungi kabut kesamaran. Lebih pula dari sebatas kelatahan bila keduanya sama-sama dihadirkan sebagai “penanda mengambang” yang menjadi legitimasi rezim -entah politik, entah kebudayaan- sekaligus landasan utama untuk pengambilan langkah besar. Pertanda pula bahwa banyak langkah penting yang hanya didasarkan pada hal-hal yang tak benar-benar terang?

Kesamaran memang patut dijadikan sebagai benang merah untuk menjalin keduanya dalam satu medan makna. Semar, sebagaimana dipahami dalam tradisi Jawa, merupakan sosok yang tak mudah diidentifikasi. “Semar punika saking basa ’samar’, mapan pranyata Kiai Lurah Semar punika wujudira samar. Yen denwastani jalu wandanira kadi wanita. Yen sinebat estri, dhadhapuranira teka priya. Pramila kathah ingkang klentu mastani. Yen ta wonten ingkang hatanya menggahing sasipatanira, hirung sunthi mrakateni, mripat rembes mrakateni, lan sapanunggalanipun sedaya sarwa mrakateni (Semar berasal dari kata samar. Memang sesungguhnya wujud Semar samar. Jika dikatakan laki-laki, dia mirip perempuan. Jika disebut perempuan, wajahnya laki-laki. Karena itu, banyak yang keliru menyebutnya. Jika ada yang memerinci badannya, orang akan melihat: hidungnya runcing memikat hati, matanya basah nan memesona, dan lain-lain yang serbamenarik),” begitu para dalang biasa mencandra sosok Semar.

Dalam kaitannya dengan kekuasaan, walaupun Semar kelihatan sebagai rakyat biasa, semua penonton tahu bahwa ia sebenarnya seorang dewa yang tak terkalahkan. Jika Semar marah, dewa-dewa bergetar, dan apa yang ia kehendaki akan terjadi.

Di luar ungkapan dan pemahaman semacam itu, masih banyak lagi teks dalam tradisi Jawa, baik berupa lisan maupun tertulis, yang bisa dijadikan sebagai rujukan betapa sosok Semar penuh kabut misteri. Namun dalam kekabutan itulah, Semar semakin eksis dan nyaris tak tergantikan.

Keberadaan Supersemar agaknya juga memiliki kemiripan dalam berbagai hal. Hingga sekarang keberadaannya masih menjadi bahan perdebatan yang tak berujung. Perdebatan itu mengemuka, paling tidak karena hingga sekarang, bukti autentiknya tak tertemukan.

Karena itulah, kesamaran Super Semar lantas merentang dari realitas faktual sampai realitas fiksional, begitu sebaliknya.

Ketika tampil sebagai pembicara dalam Sarasehan Ke-62 Rebo Legen Sanggar Paramesthi di Semarang, Selasa malam (9/3) lalu, sejarawan Universitas Negeri Semarang (Unnes) Drs Wasino MHum membeberkan interpretasi faktual terhadap Supersemar. “Terlepas dari benar tidaknya keterlibatan Soeharto dalam kudeta pertama yang gagal (G-30-S), peristiwa Supersemar dapat dipandang sebagai proses kudeta kedua secara perlahan-lahan,” kata kandidat doktor sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Dari perspektif kritik sumber, dia berpendapat, semua naskah yang ada (dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka keluaran Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1985) bukanlah naskah asli, melainkan naskah tiruan. “Persoalannya, untuk kepentingan apa bentuk Supersemar itu dipalsukan, padahal isinya sama? Jawabannya harus dicari pada pengutip naskah-naskah palsu itu,” kata Wasino sambil mengingatkan, isi naskah itu secara politik tidak menguntungkan bagi si pembuat naskah atau orang yang menyusruh membuat naskah.

Adapun dalam interpretasi kultural, menurut Wasino, Supersemar tak bisa dipisahkan dari Semar. “Soeharto adalah pengagum Semar, tokoh Panakawan atau rakyat jelata yang menjadi ‘pamomong’ bagi ksatria Pandawa. Dalam konteks ini, kata Super Semar kemungkinan berasal dari Soeharto. Persoalannya, istilah Supersemar dibuat setelah surat perintah diberikan atau dirancang sebelumnya.”

Jika yang terjadi hal pertama, kata Wasino, surat perintah yang bertanggal 11 Maret hanyalah sebuah naskah yang kebetulan bisa disingkat menjadi Supersemar, Semar yang super atau luar biasa. “Namun jika nama itu telah dirancang sebelumnya, bisa dipastikan bahwa Soeharto telah merencanakan kudeta secara perlahan-lahan. Jika itu kudeta, Soeharto berusaha melakukannya secara perlahan-lahan. Sebagai orang Jawa, ia tidak menginginkan ada kesan nggege mangsa,” katanya.

Kesamaran surat perintah yang kemudian berimplikasi secara luas terhadap konstelasi politik di Indonesia itu, menurut Wasino, paralel dengan tradisi suksesi di Jawa yang hampir selalu melahirkan sosok lembu peteng. “Kemunculan lembu peteng, seperti banyak disebut dalam babad, merupakan starategi yang lazim untuk menjustifikasi seseorang dari luar lingkaran kekuasaan untuk memegang tampuk kekuasaan.”

Dalam pandangan pengamat komunikasi politik Drs Goenawan Permadi MA, pola kesamaran macam itu malahan berlaku secara universal. “Skandal Dreyfus di Prancis pada abad ke-18 dan Hitler/Nazi di Jerman, terutama peristiwa pembakaran der Reichstag pada awal era Nazi, merupakan contohnya. Demikian pula wacana terorisme oleh Amerika Serikat. Ketiga peristiwa itu merupakan skenario imajiner untuk menjadi ‘yang riil’,” kata penulis buku Fantasi Terorisme (2003) itu.

Dengan paradigma formulasi wacana sebagai political discourse, Goenawan menipis kemungkinan Supersemar sekadar sebagai kebetulan ataupun kelatahan belaka. “Penamaan Supersemar adalah sebuah kesengajaan melalui proses seleksi dan kesadaran, bukan kebetulan. Ia merupakan hasil dari sesuatu yang telah direkayasa sebagai konstruksi imaji. Supersemar sebagai sebuah teks telah mengalami proses penamaan (naming) yang memiliki efek retroaktif. Ketika karakteristik objek yang dinamai berubah, designator-nya tetap tidak berubah. Di sini ada proses mistifikasi, dari imajiner menjadi riil,” terang alumnus Shefield University, Inggris itu.

Berkaitan dengan penamaan, Goenawan menengarai adanya perubahan term dari gerakan ke peristiwa, kemudian menjadi institusi. “Mula-mula disebut gerakan 30S, kemudian menjadi peristiwa 30 September, dan berubahlah menjadi gestapu -sebuah institusi yang memiliki homonimitas dengan Gestapo. Begitu pula Surat Perintah 11 Maret yang diakronimkan menjadi Supersemar, sebagai efek retroaktif dalam naming, menyebabkan teks lenyap, sehingga designator (super dan semar) menjadi rigid dan tetap,” katanya.

Sampai di sini, agaknya makin terang betapa dalam kesamaran itu, realitas faktual dan realitas fiksional bisa saling tumpang tindih, bisa pula saling menenggelamkan. Dan, bila paradigma formulasi wacana sebagai political discourse yang jadi acuan, maka kesamaran demi kesamaranlah yang bakal banyak tersaji. Toh, sebagaimana kata Benedict RO’G Anderson (2000), keseluruhan politik Indonesia terdiri atas proses gaib yang diturunkan dari jagat Jawa.

semar dan negeri ini

October 11th, 2006 by mr-cooll

NEGERI ini pernah dikendalikan oleh seorang pemimpin yang memuja Gatotgaca. Aslinya, sebagaimana disebutkan dalam Mahabharata, dia adalah satria biasa. Dalam arti meskipun cukup sakti, bukan berarti tidak bisa dikalahkan. Dia lahir sebagai buah perkawinan antara salah seorang satria Pandawa dan makhluk setengah raksasa yang berhasil dikalahkannya. Dalam versi wayang golek, Gatotgaca ditampilkan sebagai satria berwajah hijau. Namun jelas ia bukan Buta Ijo.

Yang kemudian menjadi menarik, khususnya bagi penggemar wayang di negeri ini, karena Gatotgaca kecil, dengan pertolongan para dewa kemudian dimasukkan ke kawah Candradimuka untuk dibenahi dan direkonstruksi. Setelah itu, ibarat besi cor, raga wadagnya dibentuk kembali. Di umur dewasanya kelak jadilah ia seorang satria pilih tanding.

Karena itulah ia pun diidolakan. Bagi sang pemimpin negeri ini, Gatotgaca adalah satria pembela kebenaran. Ia tidak pernah kompromi menghadapi kezaliman dan keserakahan. Untuk membela kebenaran sejati, ia rela mengorbankan dirinya.

Apakah sang pengagum yang sempat memimpin negeri ini sungguh meniru sikap Gatotgaca yang merelakan hidupnya dalam membela kebenaran? Alih-alih berjuang seperti itu, sang pemimpin kita malah terjungkal dengan banyak kesalahan yang dituduhkan kepadanya. Salah satunya, karena tergoda banyak wanita. Padahal sepanjang kisah Mahabharata sampai meletusnya Bharatayudha, tidak pernah sekali pun disinggung Gatotgaca suka bermain perempuan.

Negara ini pun sempat dipimpin oleh seorang pengagum Semar. Ini juga tokoh dalam kisah pewayangan. Namun, berbeda dengan Gatotgaca yang silsilahnya tercantum dengan jelas dalam Mahabharata, Semar seratus persen produk lokal. Sebagai sosok sinkretis, tentu saja tokoh ini sangat Jawa. Meskipun disebutkan sebagai reinkarnasi Batara Ismaya yang berada di situs paradewa, setelah menjelma menjadi makhluk di alam pewayangan, pangkat Semar hanyalah lurah.

Tapi, pasti bukan lurah sembarangan. Sebab meski tanpa satyalencana tersemat di dadanya, Lurah Semar menempati posisi sebagai penasihat. Para satria utama dari klan Pandawa, khususnya Arjuna, selalu menunduk mendengarkan dengan khusyuk setiap kali Lurah Semar bertutur. Dan Arjuna yang sangat dibanggakan oleh Kresna itu memanggilnya Kakang Semar.

Sebagai produk dari sinkretisasi budaya (dan agama), Semar sering diposisikan sebagai juru bicara masyarakat bawah. Hebatnya, berbeda dengan anggota DPD yang suaranya tidak dianggap penting, apa yang disampaikan oleh Semar bisa memengaruhi keputusan kerajaan. Tentu saja kecuali saat akan terjun ke medan perang Bharatayudha, karena sebagai tokoh lokal Semar tidak terdaftar.

Apakah sikap Semar yang selalu bijaksana itu sempat memengaruhi pikiran, ucapan dan tindakan seorang pengagumnya yang sempat memimpin bangsa ini? Sebatas ucapan mungkin ya. Tapi dalam urusan tindakan jelas tidak. Sebab salah satu alasan yang membuatnya dilengserkan adalah karena ia kemaruk harta. Padahal, Semar tidak pernah memberikan fasilitas agar anak-anaknya tumbuh menjadi konglomerat.

Dalam kurun berikutnya rakyat di negeri ini dengan cukup antusias sempat memilih seseorang yang berperawakan seperti Bima sebagai pemimpinnya. Sang tokoh memang bertubuh tinggi besar, persis Aria Werkudara yang sosoknya tampak menjulang di antara deretan kerabatnya yang rata-rata berbadan kecil. Bahasa tubuhnya pun kaku.

Bima adalah tokoh wayang yang dikenal carang takol. Ia hanya berkata seperlunya. Kalimatnya pendek-pendek. Ia hanya berkomentar jika perlu. Namun orang Jawa kemudian memperlakukan Bima dengan caranya sendiri. Dialah yang membuat Kali Serayu dengan memanfaatkan kelaminnya. Bahkan dalam kisah Dewaruci, setelah berhasil mengatasi cobaan yang berat-berat, Bima berubah menjadi tokoh spiritual yang berhasil mencapai derajat mulia.

Bagi orang Jawa (dan juga orang Sunda), kisah dan tokoh pewayangan ditafsir sebagai tamsil, kadang juga cermin, dari kehidupan yang sedang dijalaninya. Bisa setengah hati bisa juga sepenuh hati. Mungkin ada yang masih menunggu, kapan negeri ini dipimpin seorang pengagum Yudhisthira, seorang kepala negara yang sangat menjauhi dusta.***

ki semar adalah…………

October 11th, 2006 by mr-cooll

Semar: aslinya tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is–biasanya dibaca Se. Ambillah contoh Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai. Advicer dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Paku di sini dapat juga difungsikan sebagai pedoman hidup, pengokoh hidup manusia. Apa pengokoh hidup manusia itu? Tidak lain adalah agama. Sehingga, semar bukanlah tokoh yang harus dipuja, tapi penciptaan semar hanyalah penciptaan simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.